Tunggu saja, lah, kalau begitu!

Sedikit saja kau, hitung…

Manakala ada yang menemukan sebuah bentuk ataupun wujud dari hasil pengolahan cara berpikir yang tidak runtun, satu orang akan suka memanifestasikannya ke dalam sebuah rupa kepada satu orang lainnya. Rupa-rupa tersebut akan ditemukannya karena terpaksa dan tentu ada juga yang disengaja, sebab banyaknya tawaran pilihan yang tepat untuk mengidentifikasikannya, maka jalan satu-satunya adalah apa yang paling dekat dengan pengalamannya. Ada kepuasan di sana! Beri aku waktu untuk memberi jeda sebab dan maksud akan hal ini, akan kutuntaskan jika memang hukum alam adalah sesuatu yang memang kau benarkan ada-keadilannya.

Gerak tubuh dan bahasa menjadi medium termudah untuk menampilkan sisi paralel aturan logis yang ia miliki secara mumpuni, tapi jahatnya adalah selalu menjadikannya tameng harfiah, dihadapkannya pula pada sistem, di balik barikade kasta kesetaraan. Untuk apa kalau begitu, seseorang yang bersusah-susah dalam pikirannya, demi untuk menyumbang selimut untuk tidur nyenyaknya seseorang yang lain lalu bangun mengucapkan ‘sungguh hari yang cerah’. Hey, tunggu, Tuan dan Puan, aku tidak ingin bersungut-sungut pada kenyamanan yang diatur. Mudahnya, lebih baik aku berikan tanda pengenal, yaitu peraturan kenyamanan. Tidak, tidak demikian! Sungguh pun demikian apa sudinya perhelatan kepedulian digelar? Oh ya, aku sampai lupa, bahwa kau bebas mengatakan semua bahasa-bahasan ini adalah semata penunjang paradoksal, sedari awal sebenarnya sudah kupersilakan…

Akan tetapi bersabarlah terlebih dahulu, Tuan dan Puan, bukankah kelakar-kelakar semakin menemukan tempatnya untuk turut pula terhimpun pada ceruk-ceruk medium bahasa yang paling mudah, atau bahkan sudah merambah pada jelmaan gerak tubuh? Ya sudah, jika memang begitu. Aku hanya ingin mengintip pada sejauh mana pengakuan adalah barang mewah yang masih bisa kugali di dalam tambang. Tidak, itu bukan pengharapan namanya. Hanya saja kemungkinan selalu menjadi jalan terakhir yang kita padan-padatkan kepada kepasrahan. Tidak juga? Baik, bagaimana jika kita merumuskan sebuah kesepakatan saja? Apapun itu.

Kesepakatan manusia musykil ditangguhkan pada bab-bab; sesuai permintaan, bahwa ia hanya semacam kebenaran yang telah direduksi pada fakta-fakta yang sudah nyaman dilupakan. Ke mana lagi kita mendapatkan hal-hal yang absolut tanpa pretensi-pretensi sederhana yang dibumingkan? Ah, semakin luntur saja makna hakikatnya. Apa? Kita sedang membela relatifitas? Tunggu saja, lah, kalau begitu.

 

Iklan