Sepatu

BOLEH jadi ini gurauan belaka, tapi ini telah menjadi sebuah kisah, kisah semua orang. Tak seorang pun yang tahu sebabnya Nizar bersikeras pergi ke Ramallah. Situasinya tidak mendukung–pos-pos pemeriksaan militer, cacian, perjalanan yang sangat meletihkan melintasi perbukitan dan mengatasi tembok berlumpur. Meski begitu, dengan penuh tekad, Nizar bersikeras: Ada suatu persolan yang harus dipecahkannya di Ramallah. Ia harus pergi. “Aku bisa menanggung beban selama di perjalanan… kita sudah terbiasa dengannya… itu sudah jadi hal yang normal bagi kita. Orang-orang Israel itu tidak menyadari bahwa yang mereka lakukan itu telah membalik segalanya yang tidak wajar dalam kehidupan kita menjadi wajar-wajar saja… apalagi yang bisa kita perbuat? Duduk-duduk saja sampai mati, menanti apa?”

Ia masuk ke dalam mobil dan pergi. Ia harus mencapai Ramallah, dengan cara bagaimanapun juga.

Mobil-mobil melintasi perbukitan, melalui satu kilometer jalan beraspal dan kilometer berikutnya jalanan berlumpur. Nizar mengalihkan tatapannya ke perbukitan. Orang-orang selalu menemukan cara untuk mengitari pos-pos pemeriksaan. Jalan-jalan yang kecil menjadikan mereka ahli dalam menghindari pos pemeriksaan, perintah, keletihan, dan keadaan buruk lainnya. Mereka bagaikan sebuah koloni semut yang selalu mendapatkan jalan keluar, solusi, saat rumah dan jalanan mereka dihancurkan. Mereka cerdik dalam menghindar, menyesuaikan diri, dan bertahan. Selama berhari-hari, semut-semut ini menggali dengan mulut dan kaki mereka yang mungil, mengangkut butiran tanah ke tempat-tempat yang jauh sekali. Mereka membuat lubang yang sangat kecil tapi cukup. Mereka akan meneruskan perjalanan seakan tidak ada kejadian apa-apa. Boleh jadi sebentar kemudian, sengaja atau tidak, salah seorang dari mereka akan meruntuhkan lubang itu. Semut-semut pun berhenti, menggerak-gerakkan antena mereka dengan gelisah, melihat keributan yang terjadi, merubunginya, lalu meroyakinya lagi dan mulai bekerja.

Di jalanan yang berlumpur, orang-orang terlihat seperti gundukan-gundukan hitam kecil, bergerak berurutan. Sekumpulan manusia ini berjalan terpincang-pincang, berhenti, berjalan maju, lalu mundur. Mereka akan menempuh apa pun untuk mencapai tujuan mereka. Mereka berjalan seakan-akan melalui neraka Dante. Di jalan yang sesungguhnya, mereka berimpitimpitan.  Mereka memanjat dan melompati tembok berlumpur. Sejam kemudian, bisa jadi ada buldozer-buldozer yang menghancurkan jalan-jalan mereka dengan bebatuan, tanah, dan balokbalok semen. Bungkalan-bungkalan hitam itu terhenti, memandangi, dan berpaling pada diri mereka sendiri, pada penderitaan mereka, pada keringat dan air mata mereka, namun lagi-lagi menemukan jalan yang baru, membuatnya, menjumpainya, dan melanjutkan dengan kekeraskepalaan mereka yang abadi.

Nizar bergerak seperti yang lain-lainnya. Dicekam amarah, ia menempuh jalan semut seraya menyerapah. Kakinya terasa nyeri. Ia terjatuh, bangkit, berpegangan pada tangan seorang lelaki tua dan bersama-sama mereka melanjutkan pendakian yang sulit. Ia harus mencapai Ramallah. Seketika, barangkali kedatangannya itu sendiri yang menjadi tujuannya–kesanggupannya untuk menjadi keras kepala, untuk menonjolkan dirinya sehingga kedatangannya saja sudah merupakan suatu kemenangan, dan itu sudah cukup.

Waktu berjalan dengan lamban. Panas dan berdebu. Tembok, senapan, tentara, pemeriksaan kartu identitas, antrean panjang, serapah, dan cacian. Segalanya bercampur aduk. Maju atau mundur deritanya sama saja. Di belakang, ada tembok dan cacian. Di depan, sama saja. Jadi, majulah ia. Bukankah kedatangannya, kesanggupannya mengatasi derita merupakan perlawanan terhadap patahnya kesetaraan? Segenap bangsa menemukan jalan melangkahi logika dan akal sehat yang dengan sendirinya menguatkan logika yang mengatakan, Berjuang atau Mati.

Tenggelam dalam khayalannya, Nizar mendaki pengharapannya dengan kakinya yang menjejak jemu. Setiap bukit menjadi rintangan yang harus diatasinya, memupuk ketabahannya. Setiap tawa menjadi cara untuk bertahan, seakan ialah orang bahagia di bumi. Meski begitu ia akan merasa betul-betul bahagia saat tertawa tergelak-gelak.

Ia terus mengelak dan mendesak, dari mobil ke mobil, dari bukit ke gunung, dari pos pemeriksaan ke pos pemeriksaan. Ia berjalan terus, sementara jalannya berliku dan menantang, hingga ia mendapati dirinya dalam keadaan lemas di bangku mobil, terlupa akan apa yang tengah berlangsung di sekitarnya.

Enam jam selepas subuh bukanlah waktu yang lama, pikirnya dan ia tersenyum. Sebagian orang menghabiskan sepuluh jam untuk sampai di tempat tujuan mereka, mencapai apa yang harus dicapai. Ia bergerak semakin dekat ke pos pemeriksaan terakhir di depan kemah pengungsi Qalandia. Tinggal satu langkah lagi sebelum ia memenangkan perang.

Antrean panjang mobil merentang sepanjang aspal. Mobil Nizar melambat dan berhenti di ujung

barisan. Ia membuka pintu dan turun, melihat-lihat sekelilingnya. Di kedua sisi jalan, semutsemut bergerak di antara mobil-mobil, dalam debu. Wanita, anak-anak, laki-laki, tua dan muda, pedagang, pelajar, keledai, semuanya bergerak maju dan mundur. Suara, seruan, bisikan, permohonan–campuran memusingkan dari orang-orang, dari derita dan daki, dari debu dan upaya; dan kehidupan.

Ia meninggalkan mobil dan berjalan maju, bergabung dengan iring-iringan pelan di depannya. Sebuah mobil hitam yang bersih lewat, menimbulkan pusaran debu, meninggalkan serapah pada jejaknya.

Matahari memanggang puncak kepala orang-orang. Aliran keringat menuruni leher mereka, menaungi mata mereka. Meski begitu, tidak ada pilihan selain berjalan terus.

Nizar melangkah dengan mantap, sementara telinganya menangkap sedikit-sedikit pembicaraan: “Mereka tidak akan mengizinkan siapa pun lewat. Hanya mereka yang mendapat surat izin dari pemerintah.”

“Aku harus sampai di Ramallah, ada atau tidak ada surat izin aku tak akan kembali.”

Ia mendekati pos pemeriksaan dan berdiri di depan balok-balok semen. Beberapa tentara sedang berkumpul. Sebagian dari mereka mungkin belum sampai delapan belas tahun usianya. Kumis mereka saja belum tumbuh. Di depan mereka ratusan pria dan wanita, menanti, mengharap, berusaha membujuk para tentara dengan apa pun semampu mereka supaya mengizinkan mereka lewat. Tapi tak ada gunanya permohonan, air mata, usia, penyakit, pendidikan, universitas, semua itu tak ada gunanya…. “Tidak ya tidak.”

Tekanan dan kemacetan menjadi-jadi. Salah seorang tentara melempar bom gas, yang mengeluarkan bunyi teredam sewaktu meledak dalam kerumunan. Orang-orang berlari, terbatukbatuk, pingsan, tapi tak ada gunanya. Tidak ya tidak.

Orang-orang mulai merayap lagi. Nizar pun maju. Ia berdiri di depan balok-balok semen, lalu bergerak maju ke jalan sempit.

“Hei, kamu mau ke mana? Berhenti!”

“Aku ingin lewat.”

“Ada surat izin?”

“Tidak, aku tidak perlu surat izin.”

“Maka kembalilah. Dilarang masuk.”

“Tapi, tuan, aku harus lewat, aku datang dari jauh, ada urusan penting.”

“Aku tak peduli. Dilarang masuk. Kembali atau kutembak.”

“Kenapa kau mau menembak? Kau lihat kan aku tidak bersenjata?”

“Aku bilang tidak. Dilarang masuk.”

Nizar tertegun. Ia berpaling dan memandang kerumunan melalui bulu matanya yang tersaput oleh debu, lalu mencoba lagi.

“Tolonglah, jika kau menghendaki kartu identitasku sampai aku kembali, ini, ambillah.”

“Aku tak menghendakinya. Di sini dilarang lewat. Ini kata-kataku yang terakhir.”

“Kenapa, bung? Apa yang kau inginkan dari diriku? Aku harus sampai di Ramallah.”

Tentara itu memandang kejauhan dan kembali menatap wajah Nizar. Ini kesempatan untuk bermain-main dan bersenang-senang.  Ia meminta kartu identitas Nizar. Ia menatap kartu tersebut,  lalu pada Nizar.

“Dengar, aku akan membolehkanmu lewat jika kau melepas topimu.”

Nizar menatap tentara itu dengan serius, lalu melepas topi dari kepalanya dan melemparnya jauh-jauh.

“Sekarang, boleh aku lewat?”

Tentara itu tertawa terbahak-bahak. Matanya mengikuti gerakan topi yang terlontar di antara kerumunan dan lenyap.

“Kita belum selesai. Ada syarat lainnya jika kau ingin lewat.”

Nizar merasa ia telah berhasil meruntuhan rintangan awal berupa penolakan mentah-mentah itu. Ia mulai mengatur siasat, bernegosiasi.

“Ya, apalagi yang kau inginkan?” tanyanya pada tentara itu.

“Kau harus melepaskan sepatumu dan meninggalkannya di sini, dan mengambilnya saat kau kembali.”

Nizar menatap tentara itu. Ini main-main atau tentara itu memang serius?

“Tidak mungkin. Bagaimana aku akan berjalan dalam cuaca panas begini, belum lagi ada pecahan kaca, lumpur….”

“Baiklah, jadi kau tak mau? Kembalilah ke tempat asalmu.”

Nizar mendunduk dan berpaling sedikit. Ia menatap keramaian dalam terik matahari dan debu. Seketika, penderitaan seumur hidup kembali muncul ke permukaan.

“Baiklah, aku sepakat,” ucapnya tegas.

Ia membungkuk, mencopot sepatunya, dan segera menaruhnya pada balok semen, di depan si tentara yang terkaget-kaget, tanpa menunggu izin untuk maju.

“Hei, tunggu, masih ada syarat lagi.”

Nizar berjalan seakan lupa daratan. Jalanan yang berlumpur itu panas akibat matahari.

“Sebelum kau pergi, aku ingin kau membawakanku segelas teh.”

Nizar menatap tentara itu, lalu ke arah kakinya. Keringat bercucuran di tepian pipinya, sedikit gamang di pucuk dagunya sebelum terjun dan akhirnya lenyap dalam debu yang amat panas.

Ia berjalan perlahan dan berlalu. Lima menit kemudian ia kembali dengan segelas besar teh. Ia memberikannya pada tentara itu, yang mulai menyesapnya, sambil berolok-olok dan tertawa dengan tentara-tentara lainnya.

Nizar meninggalkan pos pemeriksaan. Akhirnya ia melintasinya dan dalam perjalanannya menuju Ramallah. Urusan yang penting itu ialah bahwa ia berhasil lewat.

EMPAT jam kemudian, Nizar kembali. Sebelum sampai di pos pemeriksaan, ia mencopot sepatu barinya. Ia menaruhnya di sebuah kantong plastik. Kesepakatannya yaitu ia harus kembali dengan bertelanjang kaki.

Ia melangkah ke arah pos pemeriksaan, pada si tentara.

“Hei, kau lihat sendiri aku sudah kembali. Di mana sepatuku?”

Tentara itu tertawa tergelak-gelak, sambil tangannya menunjuk sepatu di samping balok semen.

Nizar berjalan ke arah sepatunya. Ia memasukkan kaki kanan ke dalam sepatu dan merasakan adanya cairan panas. Ia terkejut dan mengeluarkan lagi kakinya. Ia memegang sepatu itu dan menatap si tentara yang sedang bersama empat kawannya. Smeuanya mulai tertawa-tawa.

Nizar membalikkan sepatunya. Cairan kuning keruh bercucuran dari dalam sepatu itu. Ia mengguncangkan sepatu itu beberapa kali. Ia mencoba mengeringkannya dengan koran. Halaman-halamannya penuh dengan berita dan gambar para pemimpin politik serta konferensi tingkat tinggi. Ia bangkit dengan tenang, mengenakan sepatu itu, dan berjalan lewat pos pemeriksaan. Setelah tiga langkah, ia berhenti mendadak. Ia berbalik dan berjalan kembali, sambil mendekati balok semen.

“Mau apa kau?” tanya si tentara sambil tertawa sekaligus keheranan.

Nizar diam saja. Ia memandangi orang-orang dan mobil-mobil. Ia mencopot sepatunya dan menahannya di atas balok semen. Ia menatap lurus-lurus mata si tentara.

“Satu kata terakhir,” ucapnya tegas, “yang ingin kusampaikan padamu. Selama kau terus mengencingi sepatu kami dan kami mengencingi tehmu, tidak akan ada perdamaian di antara kita. Mengerti?”

Nizar lekas berbalik. Ia lenyap dalam keramaian, tanpa alas kaki. *

 

 

Nazzar Ibrahim adalah penulis dari Beit Sahour, Palestina. Cerita ini ditulis dalam bahasa Arab dan diterjemahkan oleh Dyah Setyowati Anggrahita dari versi Inggris Taline Voskeritchian. Disalin dari karya Nassar Ibrahim dan diterjemahkan oleh Dyah Setyowati Anggrahita Pernah tersiar di surat kabar “Koran Tempo” Minggu 4 Oktober 201

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s