Orang ketiga di antara Hans dan Dens

“Mengapa aku sulit mendapatkan pengakuan di hadapan orang lain, Hans?”
“Kau salah!”
“Aku berkata yang sebenarnya!”
“Itu membuktikan kau semakin salah, Dens!”
“Aku bosan selalu mendengar jawaban omong kosongmu, Hans! Kau bukan pendengar yang baik!”
“Kalau begitu, cobalah untuk tidak ingin didengar!”
“Kau, payah, Hans!”
Dens pergi meninggalkan Hans. Hans sebenarnya ingin meninggalkannya lebih dulu kendati Dens telah mengawalinya, sebab ia sadar pertemuan ini buntutnya adalah pertengkaran, sebab kesadarannya itu pula Hans berniat pergi dari kehidupan Dens dalam waktu yang sulit diperkirakan akan singkat. Di telapak tangannya tergenggam surat yang sudah ia tulis semalaman untuknya, tapi surat itu kini masih tinggal dalam genggamannya, sedangkan Dens kadung raib di persimpangan jalan. Keberanian untuk mencegahnya pergi tak juga hadir, sampai akhirnya ia remas kertas itu secara perlahan, memampatkannya hingga menjadi bentuk bola kertas lalu ia lemparkan ke udara dengan sembarang.

***

Pertama, kesadaran nampaknya sudah bukan lagi perkara mewah yang perlu kita perbincangkan, Dens. Bukan tak ada tempat untuknya, tapi apa yang perlu diperbincangkan mengenai kesadaran? Bukankah bila semakin diperbincangkan akan semakin pudar makna hakikatnya? Ia memang bukan suatu hal yang patut diperbincangkan, bukan, Dens? Kau pernah bertanya padaku tentang hal serupanya, tentang hal-hal yang tidak tahu bagaimana cara mempelajarinya, atau paling tidak bagaimana untuk memulai mempelajarinya: ketulusan dan kejujuran. Aku gamang dan cenderung kalut mendengar dua pertanyaanmu itu.
Kau satu-satunya sahabatku yang paling tekun dengan buku-buku bacaan. Itu harta termewahku dalam mengisi hari-hari remajaku, kau perlu tahu itu, Dens! Aku berani bertaruh jika aku tak mengenalmu, kedunguan sudah menggerogoti sikap dan polah hidupku. Satu pernyataanmu yang sepertinya akan selalu terngiang selama hidupku adalah ketika kau tidak pernah menemukan jawaban tuntas ketika banyak para penulis hebat mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri, Hemingway adalah salah satu yang paling menghantui kenyataan dari pernyataanmu itu. Ingin sekali pertanyaan itu juga mampu merasuk ke dalam kepalaku, dan berharap akan selalu menggangguku juga, sama sepertimu. Tapi sepertinya hanya orang-orang sepertimulah yang menemukan pertanyaan itu, aku tidak mungkin. Itu hanya selingan saja, Dens.
Kedua, semakin lama nyatalah sudah bahwa aku semakin asing mengenalmu. Kau pun merasakan itu. Padahal, dahulu dalam benakku, aku sempat berpikir ingin menjadi serupa Pedang Ronin terhadap tuannya. Kau seakan selalu memberiku gaji bulanan melimpah dengan pengetahuan dan wawasanmu. Tapi celakanya, hal itu telah kausadari. Dan benarlah sudah, kau menjadi tuan, tuanku, dan aku sebaliknya.
Dan keterasinganmu terhadap dirimu sendiri itu semakin membuatku yakin bahwa kau manusia lemah yang berusaha menampakkan kekuatan tanpa kesadaran, bahwa kekuatanmu hanya tersimpul di kepalamu. Kau pasti mengerti maksudku.
Ketiga, aku pergi karena pertanyaan dan pernyataanmu.

Sahabatmu, Hans.

***

Setelah lelah berjalan menyusuri kota yang tidak aku kenal ini, aku duduk mengurai peluh di bawah pohon besar, tidak sengaja melihat bola kertas tak jauh dari pandangan mataku. Aku pungut lalu membacanya perlahan. “Sampah banyak yang berwujud teman! Camkan itu!” aku menggerutu tiba-tiba entah kepada siapa. Aku remas-remas kembali kertas itu secara perlahan, memampatkannya hingga menjadi bentuk bola kertas lalu kulemparkan ke udara dengan sembarang.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s